Penggunaan Disorot BOSP SMA Di Kabupaten Kuningan, Pada Alokasi Sapras Logiskah?

|SR|Kuningan|

Keterbukaan dan akuntabilitas anggaran Pemerintah yang dialokasikan pada Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) di Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Kuningan mendapat sorotan, terutama pada implementasi anggaran di nomenklatur atau kode rekening pemeliharaan sarana prasarana.

             Berdasarkan data, contohnya di SMAN 1 Kuningan, tahun 2024 dari total anggaran Rp 914.175.000, besaran alokasi untuk pemeliharaan sarana prasarana Sekolah salur tahap 1 Pencairan tanggal 18 Januari tahun 2024 sebesar Rp 194.524.500 dan salur tahap 2 Pencairan 09 Agustus tahun 2024 sebesar Rp 28.105.000. sehingga total di tahun 2024 untuk pemeliharaan Sapras sebesar Rp. 222. 629.500.

Sedangkan di tahun 2025, Sekolah tersebut mendapat alokasi sebesar Rp 906.525.000, dengan rincian untuk Sapras salur tahap 1 di Pencairan tanggal 22, Januari, tahun 2025 sebesar Rp 46.000.000, dan Pencairan 27 Agustus tahun 2025 salur tahap 2 sebesar Rp 133.639.000, sehingga totalnya 179.639.000.

             Selanjutnya, SMAN 2 Kuningan, Sekolah tersebut mendapat alokasi anggaran BOSP di tahun 2024 sebesar Rp 883.575.000, untuk penggunaan pemeliharaan sarana dan prasarana Sekolah Rp 152.254.550 yang salur tahap 1 di tanggal pencairan 18 Januari 2024. Kemudian salur di tahap 2 tanggal pencairan 09 Agustus, tahun 2024 untuk penggunaan pemeliharaan sarana dan prasarana Sekolah Rp 254.655.550. Total anggaran pemeliharaan Sapras sekolah di tahun tersebut sebesar Rp. 406.910.100.

Selanjutnya di tahun 2025 Jumlah dana yang diterima Sekolah tersebut Rp 895.815.000, tanggal pencairan 22, Januari, tahun 2025 untuk penggunaan pemeliharaan Sapras Sekolah sebesar Rp 104.675.500, dan salur tahap 2 pencairan 27, Agustus, tahun 2025, untuk penggunaan pemeliharaan sarana dan prasarana Sekolah sebesar Rp 158.035.800. sehingga totalnya Rp. 262.711.300.

            Sampel lainnya adalah SMAN Luragung, berdasarkan data penggunaan BOSP, tahun 2024, jumlah dana yang diterima Sekolah tersebut Rp 851.445.000, yang untuk tanggal pencairan 18 Januari, tahun 2024 salur tahap 1 penggunaan pemeliharaan sarana dan prasarana Sekolah Rp 47.245.000 dan tahap 2 pencairan tanggal 09, Agustus, tahun 2024, penggunaan pemeliharaan sarana dan prasarana Sekolah Rp 63.540.000, sehingga totalnya 110.785.000.

Kemudian di tahun 2025 jumlah dana yang diterima Sekolah sebesar Rp 873.630.000, dengan rincian penggunaan untuk pemeliharaan sarana dan prasarana Sekolah Rp 160.870.000 salur ditahap 1 tanggal pencairan 22, Januari, tahun 2025.

             Besarnya alokasi anggaran untuk penggunaan pemeliharaan sarana prasarana Sekolah di SMA tersebut menuai sorotan publik. Menurut M Toha dari LPI Tipikor Kabupaten Kuningan, besaran penggunaan untuk satu kegiatan tersebut patut di pertanyakan.

Dikatakannya, anggaran Publik dan perwujudan dari transparansi apalagi besarannya tidak logis adalah tidak salah untuk meminta kejelasan.

            “Anggaran sebesar itu, kalau dialokasikan untuk pembangunan ruang kelas baru juga sepertinya cukup. Ini untuk pemeliharaan sampai ratusan juta. Hal yang wajar apabila ada yang mempertanyakan,”ucapnya.

“Dan anggaran yang besar itu kan berulang tiap tahun. Itu untuk satu rincian penggunaan, bagaimana penggunaan yang lain seperti untuk PPDB, asesmen, layanan jasa dan daya serta banyak lagi komponen lainnya,” cecarnya.

             Sisi lain yang masih sulit dinalar, ketika sarana prasarana sudah bagus apalagi yang Sekolah nya sering memperoleh bantuan perbaikan ruang kelas dan pembangunan ruang baru, anggaran pemeliharaan yang fantastis sepertinya sudah tidak relevan. “Hemat Saya kalau bangunan baru tidak butuh pemeliharaan ekstra, anggaran bisa efisien. Berbeda bagi Sekolah yang bangunannya sudah tua, pasti membutuhkan biaya perawatan yang besar,”ujarnya.

Secara terpisah, Kepala SMA Negeri 1 Kuningan, Sudarmoyo, menegaskan penggunaan sudah sesuai, alokasi untuk pemeliharaan sapras Sekolah adalah kode rekening induk, menurutnya masih ada sub kode rekeningnya.”Saya baru menjabat di Sekolah ini, namun Saya juga telah mempelajari, karena sempat ada yang mempertanyakan wartawan yang mengakunya dari Bandung,” ucapnya, Rabu (22/4) ketika diruang kerjanya.

Penulis (Baim)

Selamat Hari Santri Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *