|SR|Pangandaran|
Nama Sidamulih berasal dari kata “sida” yang berarti jadi atau terlaksana, dan “mulih” yang berarti kembali. Secara makna. Sidamulih dapat diartikan sebagai “menjadi kembali” atau “kembali seperti semula”, yang mencerminkan harapan Masyarakat agar kehidupan di wilayah tersebut senantiasa pulih, tenteram, dan sejahtera, setelah melewati berbagai masa sulit.
Menurut cerita lisan yang berkembang, wilayah Sidamulih pada awalnya merupakan Daerah persinggahan dan permukiman baru yang dibuka oleh para perintis dari wilayah sekitar Pangandaran dan Priangan Timur. Kawasan ini dulunya berupa Hutan dan lahan Pertanian yang kemudian dibuka secara bertahap melalui kegiatan babad alas. Para Penduduk awal menetap dan membangun kehidupan dengan mengandalkan Pertanian, Perkebunan, serta pemanfaatan sumber daya alam sekitar.
Nama Sidamulih juga sering dikaitkan dengan fase Sejarah ketika wilayah ini mengalami perubahan besar, baik akibat perpindahan Penduduk, perubahan tata wilayah, maupun dinamika sosial-politik, pada masa kolonial hingga pasca Kemerdekaan. Setelah mengalami masa-masa sulit, Masyarakat berharap wilayah tersebut dapat “mulih” atau kembali pada kondisi aman, makmur, dan rukun. Sehingga nama Sidamulih dipandang sebagai simbol doa dan harapan kolektif.
Dalam perkembangannya, Sidamulih tumbuh menjadi Pusat aktivitas sosial dan ekonomi Masyarakat sekitarnya. Letaknya yang strategis menjadikan Sidamulih sebagai simpul perdagangan lokal dan jalur penghubung antar wilayah di Pangandaran. Nilai gotong royong, musyawarah, dan kearifan lokal menjadi fondasi kuat dalam kehidupan Masyarakat Sidamulih hingga kini.
Secara administratif, Sidamulih kemudian berkembang menjadi wilayah Kecamatan dan desa-desa yang tertata, mengikuti dinamika Pemerintahan Daerah Kabupaten Pangandaran. Hingga saat ini, Sidamulih dikenal sebagai kawasan yang dinamis, religius, dan memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan sosial, ekonomi, dan budaya Masyarakat Pangandaran.
Penulis (Nisfha)





