Iklan

Spora Ramadhan dan Fondasi Karakter Santri

|SR|Pangandaran|

Pembukaan Pesantren Ramadhan Albahar Pangandaran pada tanggal 22, Februari, tahun 2026, menghadirkan pesan yang kuat tentang arah Pendidikan untuk generasi muda. Kegiatan yang dibuka oleh Hj Ida Nurlaela Wiradinata ini merupakan anggota DPR Jawa Barat, dapil X. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi bersama tentang pentingnya Pendidikan Karakter di tengah arus zaman.

              Dalam sambutannya, Hj Ida menegaskan bahwa Pendidikan Karakter harus menjadi fokus utama dalam pembentukan pondasi santri. Ia mengingatkan bahwa Ramadhan bukan hanya ritual ibadah, tetapi ruang pembentukan ruhaniah, penguatan interaksi sosial, dan penempaan mental. Pesan ini terasa relevan di era ketika generasi muda hidup dalam pusaran digitalisasi yang serba cepat, instan, dan sering kali dangkal secara makna.

Tema kegiatan tahun ini “Spora” (Symphony of Ramadhan), mengandung filosofi yang mendalam. Spora adalah benih kehidupan; kecil, namun menyimpan potensi besar untuk tumbuh. Ramadhan pun demikian: sebulan yang singkat, tetapi mampu menumbuhkan Karakter jika dirawat dengan kesadaran. Simfoni Ramadhan adalah harmoni antara ibadah personal dan kepedulian sosial, antara dzikir dan pikir, antara kesalehan individual dan kesalehan kolektif.

             Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Desa Pangandaran, Ketua Yayasan Albahar, para alim ulama, serta Masyarakat setempat. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa Pendidikan Karakter bukan hanya tanggung jawab Lembaga Pendidikan, melainkan tanggung jawab kolektif. Dukungan tokoh Pemerintahan Desa, Pimpinan Yayasan, dan para ulama menjadi simbol kuat bahwa pembinaan generasi muda adalah kerja bersama yang memerlukan sinergi.

Ketua penyelenggara, Nishfa Farid Rijal, S.Pd, M.Pd.Gr, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sebatas formalitas tahunan. Pesantren Ramadhan Albahar ingin benar-benar “meramadhankan diri,” terutama melalui pendekatan yang dekat dengan kultur Generasi Z. Metode yang digunakan pun variatif: role playing, ceramah interaktif, nadzoman, hingga penguatan logika Agama. Pendekatan ini menunjukkan kesadaran bahwa dakwah kepada generasi muda tidak bisa lagi satu arah. Ia harus dialogis, kontekstual, dan menyentuh realitas keseharian Mereka.

              Di tengah tantangan krisis moral, perundungan digital, hingga degradasi etika publik, Pendidikan Karakter berbasis nilai keagamaan menjadi kebutuhan mendesak. Ramadhan menyediakan ruang latihan yang komprehensif: menahan diri dari lapar dan dahaga melatih disiplin; memperbanyak sedekah menumbuhkan empati; tarawih dan tadarus membangun ketekunan; serta kebersamaan dalam kegiatan pesantren memperkuat solidaritas sosial.

Pesantren Ramadhan Albahar Pangandaran, patut diapresiasi sebagai upaya menghadirkan Pendidikan yang tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi menyentuh transformasi diri. Spirit yang dibangun bukan hanya agar anak-anak mampu membaca al kitab melainkan juga mampu membaca diri dan realitas sosialnya dengan lebih arif.

                Harapannya, semoga kegiatan ini benar-benar melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional. Generasi yang tidak mudah rapuh oleh tekanan zaman, karena telah memiliki pondasi ruhaniah yang kokoh. Jika Ramadhan dimaknai sebagai proses pembenihan Karakter, maka simfoni yang dimainkan tahun ini semoga menghasilkan harmoni akhlak yang semakin berkelas dan berdampak bagi Masyarakat Pangandaran di masa depan.

Penulis (NSF)

Exit mobile version