|SR|Kuningan|
Proyek Revitalisasi Sekolah Luar Biasa (SLB) Darma Wanita Jalaksana tahun 2026, dengan nilai kontrak anggaran sebesar Rp 555.306.000, yang bersumber dari APBN. Kini pembangunan tersebut menjadi sorotan tajam. Program yang seharusnya memperkuat fasilitas Pendidikan bagi siswa yang berkebutuhan khusus justru sebaliknya, diduga sarat kejanggalan dan pelanggaran dilapangan. Berkaca dari pembangunan Revitalisasi pada tahun 2024-2025. Pemasangan “selup besi” harusnya sampai bawah menggunakan ceker ayam. Yang terjadi malah di gantung tidak sampai ke pondasi bawah, ini sangat riskan akan terjadi ambruk karna tidak sesuai spek, temuan ini dihimpun pada hari Selasa, tanggal (28/4/2026).
Selaku pelaksanaan kegiatan yang seharusnya melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), malah diduga pengerjaan ini diborongkan kepada pihak ketiga, sehingga melibatkan para Pekerja dari berbagai wilayah seperti dari Kertawinangun, Linggarjati, Sadamantra, Manis Kidul, Cidahu, hingga Japara. Sehingga kondisi pekerjaan yang ditemukan jauh dari standar yang semestinya.
Berdasarkan pengakuan salah satu Pekerja, upah yang diterima hanya sebesar Rp120.000 per harinya dengan sistem lepas. Nilai tersebut dinilai tidak sebanding dengan risiko pekerjaan konstruksi, terlebih lagi para pekerja tidak menggunakan perlindungan pekerjaan yang sesuai dengan standar keselamatan kerja.
Temuan lain yang tak kalah serius, karena para pekerja tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat bekerja. Hal ini menunjukkan adanya dugaan pengabaian terhadap standar keselamatan kerja yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam proyek pembangunan Pemerintah, ini malah diabaikan.
Tim investigasi juga mengalami kendala saat mencoba melakukan konfirmasi kepada Kepala Sekolah, yang diketahui bernama Nia. Ia sulit ditemui menghindar dari pertanyaan para wartawan. Adapun para guru juga memilih bungkam, seolah olah takut untuk memberikan no kontak Kepsek ga berani, sehingga belum memberikan klarifikasi resmi terkait pelaksanaan proyek tersebut.
Dari hasil pengecekan di lokasi, muncul indikasi kuat bahwa bangunan yang sedang dikerjakan ini tidak sesuai dengan spesifikasi teknis (spek) yang ditetapkan. Dugaan ini diperkuat oleh pernyataan PWJI Dewa bersama Media SK Buser yang menilai kualitas pekerjaan patut dipertanyakan.
“Jika benar tidak sesuai spek, ini bukan hanya soal teknis, tapi berpotensi merugikan Negara. Harus ada audit menyeluruh,”tegasnya.
Melihat sejumlah indikasi tersebut, tim investigasi akan terus melakukan pengawasan lanjutan. Mereka juga akan mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) serta instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan audit dan pemeriksaan mendalam.
Jika terbukti terjadi pelanggaran, proyek ini berpotensi menjadi contoh lemahnya pengawasan dan transparansi dalam penggunaan anggaran Negara di sektor Pendidikan dan gambar proyek pun tidak ada sebetulnya harus ada. Di pasang di bor atau didinding kaca, atau ditembok, ini semua demi keterbukaan untuk informasi Publik.
Penulis (Alex Nurdiansyah)
