|SR|Kuningan|
Kasus kematian massal spesies Ikan Dewa (Neolissochilus soro) yang juga menjadi ikan mitos di Balong Keramat Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, terus melonjak drastis. Dua pekan lalu sejak kasus kematian Pertama ditemukan, tercatat 961 ekor ikan mati di lokasi tersebut.
“Ikan yang mati mencapai 961 ekor, kini tersisa 200 ekor,” terang Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kuningan, Deni, Kamis (12/2/2026).
Guna mencegah kematian massal berlanjut, pihaknya kini mengisolasi ikan yang sakit maupun yang sehat sebelum dipindahkan ke kolam karantina. Tampak sejumlah ikan dewa dimasukkan ke dalam bak khusus untuk diberi garam dan suplai oksigen. Kolam karantina bagi ikan yang masih bertahan hidup didukung dengan dua pompa air yang terus menyuplai oksigen ke dalam kolam.
“Ikan yang ada, baik yang sakit atau pun tidak sakit. Kita simpan dulu dalam bak isolasi untuk di treatment selama enam jam dan diberikan antibiotik serta garam, sebelum dilepaskan ke dalam kolam khusus. Dengan harapan bakteri yang ada itu mati dengan langkah ini mudah-mudahan yang masih hidup bisa diselamatkan,”imbuhnya.
Ia memaparkan, berdasarkan hasil uji laboratorium, ribuan ikan tersebut mati akibat serangan cacing parasit dan bakteri Aeromonas. Bakteri ini membuat ikan mudah sakit dan mati secara perlahan dengan karakteristik penyebaran yang cepat dan merata.
“Setelah hasil laboratorium dari Bandung keluar, ternyata kematian ikan yang terus terjadi disebabkan karena bakteri Aeromonas. Jadi selain disebabkan karena parasit juga disebabkan karena bakteri Aeromonas. Bakteri ini berbahaya, karena ketika sudah terkena hampir 80 sampai 100 persen ikan itu mati secara perlahan,” paparnya.
Bakteri Aeromonas tombul dipicu oleh buruknya sistem pengelolaan air kolam yang dibiarkan selama bertahun-tahun.”Kita bisa lihat bahwa air yang ada di kolam merupakan air yang menggenang dengan kedalaman rendah dan tidak memiliki pembuangan bawah. Padahal, yang dibutuhkan juga adalah pembuangan bawah untuk menguras air dan zat kotor yang ada di bawah,” terangnya.
Upaya pembersihan air kolam yang terkontaminasi, lanjut Deni, masih terus dilakukan pengurasan. Meski saluran pembuangan air sudah dibongkar menggunakan alat berat, air tetap menggenang. Alhasil, pihaknya meminta bantuan petugas Pemadam Kebakaran dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kuningan untuk menyedot sisa air tersebut.
“Pembuangannya airnya kan dicor. Akhirnya dibongkar pakai backhoe, tapi masih kurang dalam. Jadi minta bantuan Damkar dan BPBD untuk menggunakan mesin penyedot airnya. Karena ini harus dikuras semua sampai kering. Target ini sebelum Ramadan sudah kering,”ulasnya.
Usai dikuras, kolam akan dikeringkan selama beberapa hari, lalu ditaburi garam dan kapur agar kondisi kolam kembali bersih. Setelah dipastikan steril, kolam baru akan diisi air kembali.
“Sampai dipastikan bakteri dan parasitnya mati semua, baru kolam diisi air. Kemudian untuk penambahan populasi mengganti ikan yang mati, kita coba mengembangbiakkan ikan dewa yang sama tapi bukan asli sini,”cetus Deni disadur dari Detik.com.
Penulis (Baim)





